Trang… Tring… prang… tring….
Suara perkakas makanan di meja makan seperti beradu untuk membuktikan siapa di antara mereka yang paling berisik. Sebuah meja makan panjang yang cukup untuk kurang lebih dua puluh orang memuat sepuluh macam makanan yang lezat dan hangat. Lima belas kursi disedakan di ruangan makan itu. Tepat saat jam makan malam, semua anggota keluarga berkumpul.
………….
“Jadi kau membawa dua orang tamu tanpa memberitahu kami terlebih dahulu?”, ucap seorang pria tua yang mempunyai janggut yang cukup panjang, seperti penyihir di cerita dongeng. Lalu Ayamu bangkit dari kursi dan angkat bicara.
“Shiaki dan Aya, selamat datang di Keluarga Feelhart. Ayah, Ibu, Saudara, dan Paman perkenalkan, mereka adalah manusia yang akan membantuku dalam mencari ingatan masa lalu-ku”. Ayamu lalu memandangku dengan alis yang diangkat. “Perkenalkan, Shiaki Tsubasa, dan temannya Aya Shinami. Dan untuk kalian berdua, kuperkenalkan pada kalian Keluarga Feelhart. Setiap anggota keluarga di sini mempunyai perasaan, sifat, dan karakteristik yang berbeda. Perkenalkan Ayahku,…”.
“Sudah, cukup. Terima kasih atas perkenalannya. Mulai dari sini serahkan pada kami. Namaku Antonious Flamehart. Dan ini istriku, Mizuki Feelhart”.
“Kalan pasti sudah tahu namaku. Namaku Chiyo Waremhart. Aku adalah anak pertama dari keluarga Feelhart. Dan adikku yang kedua, Ayamu Eicyhart. Adikku yang ketga, Erin Soulhart…”.”Salam Kenal!!!”, sapa Erin hangat.
“Biar aku lanjutkan,”, potong Ayumu.
“Anak ke-empat dari Keluarga Feelhart adalah Hayate Saihart. Selanjutnya adalah Erdrick Romanshart…”.”Salam kenal, wahai bunga mawar yang indah dan burung pipit yang mungil…”,potong Erdrick. Aya lalu tertawa kecil dan pipinya pun memerah mendengar kata-kata Erdrick itu.
“Ehem, lanjut ke pembicaraan…”.
“Namaku Sebastian Lockhart. Dan anak ketujuh dari keluarga Feelhart yatu Chirstian Purehart. Dan saudara kembarnya Christine Purehart. Anak kesembilannya adalah Chiyoko Fenhart. Dan anak kesepuluh yaitu Sandy Madlehart. Anak kesebelasnya adalah Hibiki Saunhart. Selanjutnya adalah Juunrou Brafhart. Lalu Panchi ‘eatman’ feelhart…”.”Aku basa makan seribu roti dalam seminggu!!”.”Selanjutnya Sabrine Saihart dan yang terakhr Elinna Frandlyhart”.
“Terima kasih atas perkenalannya, Sebastian”. Kata Ayamu.
“Ohya hampir lupa, ini adalah paman kami tercinta, Albert Cavarious”., lanjut Ayamu.
“Howdy everybody!! Salam kenal semua, untuk Aya dan Shiaki tentunya!!”.
“Bakilah kalau begitu, silakan menghabiskan makanan kalian. Selamat makan.”.
Malam hari setelah makan malam, Ayamu mengajak Aya dan Shiaki menuju kamar yang disediakan untuk mereka. “Disini terdapat kurang lebih 78 kamar, belum termasuk ruangan yang lain”, terang Ayamu. “Waah. Hebat sekali istana ini!”, ucap Shiaki terkesima dengan nada rendah. “Tapi, apakah kamar itu juga termasuk kamar untuk anggota keluarga disini?”, Tanya Aya. “Tentu saja. Tapi ada beberapa saudaraku yang tidur bersama saudara lainnya. Misalnya Sabrine dan Elinna, Chiyo dan Chiyoko, Paman Al, Hayate dan Panchi, juga Ayah dan Ibu kami”. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka tiba di kamar. “Ini kamar kalian. Aku mau pergi tidur dulu, selamat tidur”.
Setelah beberapa kali Shiaki mencoba untuk memejamkan mata, usahanya hanya sia-sia saja. Shiaki melihat jam menunjukkan pukul 12 malam. Karena tidak bisa tidur, ia akhirnya keluar kamar dengan mengendap-endap karena melihat Aya tertidur dengan pulas dan ia tidak ingin membangunkannya. “Wah, sepi….”. Ia mencoba untuk berjalan berkeliling lorong. Lalu, dia mendengar suara biola yang indah. Ternyata, ada seseorang yang memainkan biola yang indah di tengah malam. Tapi, kenapa? Shiaki lalu mencoba untuk mendekati ‘sang maestro’ itu.
“SEBASTIAN!!”.
“Ah…”.~kaget~
Saat mendengar Shak berbicara, Sebastian menghentikan permainan biolanya yang indah itu. “Kenapa berhenti?”. “Aku tak mau bermain jika dilihat orang lain”, ucapnya dingin.
Sebenarnya Shiaki agak kesal dengan ucapan Sebastian itu. “Tapi, kenapa? Kenapa kau tak mau dilihat oleh orang lain? Lagipula kau mempunyai beberapa kelebihan, wajahmu tampan, badanmu tinggi, kau sempurna untuk anak seusiamu. Dan… permainan biolamu juga sangat indah!!”. Raut wajah Sebastan kaget saat Shak berkata bahwa permainan bolanya sangat indah. “Maaf, apakah aku menyinggung perasaanmu? Aku tidak bermaksud…”.
“Terima kasih”.
“Haah?...”
“Terima kasih telah memuji permainan biolaku. Belum ada seorangpun yang mengatakan bahwa permainan biolaku sangat bagus. Terima kasih…”.
“Tapi itu memang kenyataan!! Kau belum menunjukkannya pada orang lain?”.
“Belum, selain kau…Karena keluargaku jarang ada waktu untuk bermain bersamaku”.
“Wah…nasib kita sama ya!! Orang tuaku juga jarang mempunyai waktu untukku. Jadi, aku tumbuh secara mandiri dan lebih sering menyendiri..”.
“Terima kasih… sudah mau menjadi temanku. Aku merasa beruntung kakak membawamu ke istana ini”.
“Sama…sama”.
“He, kalan berdua disana!! Belum tidur…”
“Haaah…kak…kak Ayumu..”.
“Biasa saja, Sebas. Aku hanya ingin bicara dengan pacarmu saja.. heh, besok siapkan dirimu untuk pergi ke dimensi lain… aku hanya ingin menyampaikan itu saja. Silakan berpacaran lagi…”.
“KAKAAAAK!!!”.
“Hahahahahahaha…. Bercanda. Tapi memang kalian cocok kok. Sama-sama cakep! Yang satunya tampan dan keren, yang satunya lagi cantk dan manis”.
“Hah…heh Ayumu!!! Tairk kata-katamu kembali!! Tentang diriku!!!”.
“Tidak mau!! Itu khan memang kenyataan!! Hueek!! Oya Sebastian, permainan biolamu tadi bagus sekali. Ada kemajuan sejak tahun lalu.. kembangkan ya!!”
“Aah…Terima kash, Kak…”.
“Ayumu!!!!! Kemari kau!!!”. Shiaki terlalu memikirkan kata-kata Ayumu tadi sampai hampir meninggalkan Sebastian sendirian. “Oya, Sebastian, selamat tidur. Aku mau tidur dulu,ya. Oya kakak mu yang satu itu ternyata cukup peduli padamu juga, lho!!”.
“Iya… selamat tidur..”. Lalu ia berlari menuju kamar.
“Ohya, Shiaki aku mau… dia sudah pergi..”.
Sebenarnya Sebastian ingin memberitahu sesuatu yang cukup penting kepada Shiaki tentang dirinya tetapi, Shiaki sudah pergi meninggalkan Sebastian. Apakah sebenarnya yang ingin disampaikan Sebastian pada Shiaki?
“Kekuatannya… cukup besar dan cukup berbahaya bagi dirinya dan orang di sekelilingnya..”.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar